Tampilkan postingan dengan label healthy project. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label healthy project. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Agustus 2010

Berterimakasihlah pada Klebsiella

Siapa yang tak kenal tempe. Makanan tradisional Indonesia yang berasal dari hasil fermentasi kacang kedelai ini telah menjadi salah satu menu makanan penduduk Jawa Tengah sejak tahun 1700-an. Selain murah harganya, juga kaya nutrisi. Tempe mengandung protein, mineral, serta yang paling banyak dibicarakan saat ini adalah isoflavone, suatu senyawa estrogen yang dihasilkan tumbuhan (phytoestrogen), yang memiliki banyak efek menguntungkan bagi kesehatan. Dibandingkan dengan makanan hasil olahan kedelai lainnya, tempe mengandung isoflavone dengan kadar yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh fermentasi yang dilakukan oleh jamur Rhizopus. Semakin lama proses fermentasinya, semakin tinggi kadar isoflavone-nya.

Tetapi bukan itu yang mau saya bicarakan saat ini. Walaupun kadar isoflavone pada tempe Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan tempe yang dibuat di negara Asia lainnya seperti Jepang, karena proses fermentasinya yang seringkali dipercepat oleh masing2 pembuat tempe, namun, tempe Indonesia memiliki kelebihannya sendiri, yaitu kadar vitamin B12 yang cukup tinggi.

Tempe Indonesia mengandung vitamin B12 sebanyak 4.6 ug/100g, jumlah yang cukup tinggi dibandingkan dengan tempe Jepang yang kandungannya 0.03-0.06 ug/100g. Bagaimana mungkin hal ini terjadi? Bukankah tumbuhan tidak menghasilkan vitamin B12?

Jawabnya, ya. Memang tumbuhan tidak dapat menghasilkan vitamin B12. Kedelai tidak menghasilkan vitamin B12, begitu juga dengan Rhizopus. Lantas, darimanakah vitamin B12 itu berasal?

Vitamin B12 ini berasal dari bakteri Klebsiella pneumonia, yang muncul pada saat pembuatan tempe yang kurang higienis. Mengapa kadar vitamin B12 di tempe Jepang rendah, jawabnya adalah karena proses pembuatan tempe mereka yang bersih.

Apakah anda merasa jijik setelah membaca artikel ini?
Bagaimanapun, hal ini sangat menguntungkan bagi masyarakat Indonesia. Akan lebih baik lagi jika proses fermentasinya tidak dipercepat, tetapi dilakukan sesuai dengan prosedur yang benar. Maka tempe Indonesia akan semakin kaya akan nutrisi, dan semakin menguntungkan bagi masyarakat.

Bagi saya pribadi, sebagai seorang vegetarian, hal ini sangatlah menguntungkan. Saya jadi tidak perlu takut lagi kekurangan vitamin B12 karena tidak mengkonsumsi daging.

Bagaimanapun kita harus berterima kasih kepada Klebsiella.



*Artikel ini saya kutip dari Review Article berjudul "Tempe, a nutritious and healthy food from Indonesia", yang ditulis oleh Astuti, M. dan Meiliala, A. dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, dan Dalais, F.S., Wahlqvist, M.L. dari Faculty of Medicine, Monash University, Melbourne, Victoria, Australia.

Selasa, 06 April 2010

Vegetarian? WHY NOT?

Terinspirasi oleh ayat alkitab yang saya baca ketika melakukan rutinitas malam saya, yaitu belajar sekolah sabat.


Daniel 1:8

(8) Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.


Dulu ketika membaca ayat ini, yang muncul di pikiran saya adalah betapa hebatnya Daniel dapat menahan diri untuk tidak menyentuh barang menarik. Prinsip yang ditunjukkan disini adalah penguasaan diri, atau yang beberapa orang sebut dengan temperance. Namun kali ini, saya justru mendapatkan interpretasi dari sudut pandang yang berbeda dari ayat ini.

Untuk informasi sebelumnya, saya adalah seorang vegetarian. Lebih tepatnya lacto-ovo-vegetarian, yaitu vegetarian yang masih mengkonsumsi telur dan susu. Mulai dari beberapa kasus kanker yang terjadi ketika saya duduk di kelas 3 sma, yang merenggut nyawa 2 orang teman saya, saya berpikir harus merubah komposisi makanan saya menjadi lebih sehat. Penyakit jaman sekarang kalau menyerang tidak pandang bulu dan tidak pandang usia. Maka berawal dari "parno kanker" itulah saya menjalani kehidupan vegetarian yang penuh dengan tantangan ini.

Sebenarnya tidak murni dari keparnoan saya terhadap kanker juga sih. Saya hanya mulai sedikit bosan dengan daging. Saya tidak begitu suka memakan daging sapi, dan tidak juga ikan yang amis. Alhasil saya lebih sering makan ayam, dan lama-lama saya jadi bosan makan ayam. Sejak itulah saya memutuskan untuk menjadi seorang vegetarian lagi.

Awalnya agak sulit, karena orang-orang di sekitar saya - setiap kali bertemu dengan saya - selalu bilang : "Untuk apa kamu jadi vegetarian. Kamu kan masih dalam masa pertumbuhan. butuh gizi yang banyak. kalau kamu jadi vegetarian nanti kamu kurang gizi."
Tapi karena saya ini memang keras kepala, jadi kalau sudah memutuskan sesuatu, mau apapun yang dikatakan orang padaku --> ngga peduli tuh. terserah saya donk.

Kesulitan lainnya dalam menjadi seorang vegetarian adalah susah cari makan. Kalau saya pergi jalan-jalan ke mall bersama teman-teman, ketika jam makan siang, saya akan bingung kemana mau mencari makanan. Yah, paling yang ada cuma gado-gado atau ketoprak. Kalau sekarang sih mudah, karena banyak resto vegie dimana-mana. Bukan cuma itu, sekarang juga sudah banyak resto yang menyediakan menu khusus vegetarian.

Terkadang saya juga suka 'ngiler' makan makanan karnivora sih. Saya paling kangen makan ikan teri sambal, ayam angkak dan ayam arak buatan papa saya. Kadang-kadang juga kepengin makan ikan asin (lhoo??). Jangan heran yah, yang saya kangenin justru makanan kampung semua. hahaha

Yang sedihnya, ketika belajar ilmu gizi di kampus, sering kali saya dibecandain sama teman-teman saya. Kenapa? Karena dosen saya sendiri yang bilang, kalau orang-orang vegetarian itu biasanya ada defisiensi gizi. Yang paling banyak sih vitamin B12, yang berperan dalam pembentukkan darah. Katanya kalau darah yang dibentuk tidak cukup, maka akan anemia. Anemia membuat transport oksigen ke otak kurang atau tidak mencukupi. Jika kebutuhan oksigen otak tidak mencukupi, maka otak tidak dapat berpikir dengan baik, alias jadi bego. Sedih amat sih, saya jadi bego. :(


Namun ketika saya membaca ayat ini --> Daniel 1:8-16, ada sesuatu yang menguatkan saya.

Seperti yang saya ketahui, dan saya yakini, bahwa alkitab itu bisa dipercaya. Sebelumnya saya juga pernah menulis blog tentang bagaimana kita bisa mempercayai alkitab. Lalu apakah yang alkitab katakan tentang vegetarian?
Yuk, kita baca sama-sama Daniel 1:8-16

Daniel 1:8

(8) Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.

(9) Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu;

(10) tetapi berkatalah pemimpin pegawai istana itu kepada Daniel: "Aku takut, kalau-kalau tuanku raja, yang telah menetapkan makanan dan minumanmu, berpendapat bahwa kamu kelihatan kurang sehat dari pada orang-orang muda lain yang sebaya dengan kamu, sehingga karena kamu aku dianggap bersalah oleh raja."

(11) Kemudian berkatalah Daniel kepada penjenang yang telah diangkat oleh pemimpin pegawai istana untuk mengawasi Daniel, Hananya, Misael dan Azarya:

(12) Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air untuk diminum;

(13) sesudah itu bandingkanlah perawakan kami dengan perawakan orang-orang muda yang makan dari santapan raja, kemudian perlakukanlah hamba-hambamu ini sesuai dengan pendapatmu."

(14) Didengarkannyalah permintaan mereka itu, lalu diadakanlah percobaan dengan mereka selama sepuluh hari.

(15) Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja.

(16) Kemudian penjenang itu selalu mengambil makanan mereka dan anggur yang harus mereka minum, lalu memberikan sayur kepada mereka.


Okey, jadi Daniel tuh vegetarian toh. Makanannya sayuran dan minumnya air. (ayat 12)
Lalu adakah Daniel mengalami anemia?

Sebentar dulu. Anemia itu sebenarnya apa sih??
Anemia itu di kalangan luas dikenal sebagai kurang darah. Gejalanya terkenal dengan sebutan 5L (dari iklan-iklan di televisi) yaitu: lemah, letih, lesu, lunglai, lelah.

Jadi apakah Daniel mengalami anemia? (ayat 15) Sepertinya tidak. Dia tidak lemah, letih, lesu, lunglai dan lelah. Justru perawakannya kelihatan lebih baik dan lebih gemuk daripada orang-orang yang makan daging.

Apakah Daniel dan teman-temannya menjadi bodoh? Ayat 17 :

(17) Kepada keempat orang muda itu Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat, sedang Daniel juga mempunyai pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi.

Allah justru memberikan pengetahuan dan hikmat kepada mereka.

WOW. begitu terkesannya saya karena alkitab menuntun hidup kita bahkan sampai kepada hal-hal yang terkecil sekalipun.

Jadi apakah kita dapat mempercayai alkitab?
Apakah kita dapat mempercayai Allah?

Dua pertanyaan di atas jawab sendiri.
Yang pasti untuk saya sekarang : menjadi vegetarian -- why not?

GBU :)

Senin, 29 Maret 2010

Book Recommendation : The Miracle of Enzyme

Hari minggu kemarin, saya sedang berjalan-jalan bersama dengan 3 orang teman di Supermall Karawaci, sepulang dari seminar "Allergy Alert" yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (UPH). Karena tujuan kami tidak direncanakan sebelumnya, maka kami memutuskan untuk melihat-lihat saja di Toko Buku Gramedia. Maklum, suka melihat-lihat buku dan alat tulis. :)

Ketika memasuki Gramedia Bookstore, mata saya menangkap tumpukkan buku hijau tidak jauh dari pintu masuk toko buku tersebut, yang di sampul bukunya tertulis kata "Enzyme". Mungkin karena saya anak Fakultas Kedokteran, sehingga pada saat melihat kata itu, saya langsung tertarik dan penasaran apa sebenarnya isi buku tersebut. Judulnya adalah "The Miracle of Enzyme", ditulis oleh seorang guru besar dari Fakultas Kedokteran di Albert Einstein University di Amerika Serikat yang bernama Hiromi Shinya, MD.



Biasanya saya tidak terlalu tertarik dengan buku-buku kesehatan yang dijual di toko-toko buku, karena saya pikir buku-buku tersebut ditargetkan untuk dibaca oleh kaum awam, bahasanya sangat sederhana dan biasanya tidak ada penjelasan fisiologisnya, sehingga menurut saya tidak perlu untuk dibeli karena toh saya bisa belajar sendiri. Saya bisa membaca jurnal-jurnal yang evidence-based dengan referensi yang lebih kuat dan penjelasan yang lebih masuk akal.

Tetapi buku ini berbeda dari buku-buku kesehatan yang dijual di toko buku. Ketika saya membaca sekilas buku ini, saya menemukan penjelasan yang medis, logis dan fisiologis mengenai apa yang tertulis dalam buku ini. Walaupun tidak ada referensi yang dicantumkan, tetapi sepertinya dokter Shinya menulis berdasarkan pengalamannya sendiri. Yang membuat saya kagum pada dokter ini adalah dia mencoba obat-obat baru kepada dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum memberikannya kepada pasien, untuk mengetahui khasiat dan efek samping dari obat tersebut secara detail, yang biasanya tidak tertulis dalam kemasan obat. Dari sini saya dapat melihat betapa dia memperhatikan kepentingan pasiennya.

Hal lain yang unik dari buku ini adalah saran-saran yang tertulis di dalam buku ini agaknya sejalan dengan ajaran kesehatan dan larangan-larangan yang diajarkan oleh Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Mungkin saudara-saudara dulu pernah membaca kutipan saya dari American News, tentang kesehatan : hal-hal yang dilakukan untuk memperpanjang umur, yaitu salah satunya adalah live like the Seventh-day Adventist. Menurut survey yang dilakukan, umat masehi advent hari ketujuh rata-rata berumur lebih panjang daripada orang-orang lainnya. Saya mengerti bahwa pembaca blog ini tidaklah seluruhnya berasal dari kalangan masehi advent hari ketujuh, bahkan blog ini dapat dibaca oleh semua orang. Saya menulis ini bukan untuk meninggikan ataupun memojokkan pihak-pihak tertentu, tetapi hanyalah sekedar penjelasan dan pembuktian dari apa yang selama ini saya percayai dan lakukan - tentunya dengan berbagai macam pergumulan dan pembantahan mengenai teori-teori kesehatan yang selama ini beredar.

Terus terang saja, saya bukan tipe orang yang dapat langsung menerima begitu saja bila diberikan peraturan dan larangan, apalagi dalam bidang kesehatan. Ketika saya memasuki Fakultas Kedokteran, pemikiran logis saya semakin berkembang dan sesaat saya menjadi orang yang suka membantah hal-hal yang saya rasa tidak sesuai dengan pemikiran logis saya, tentunya berdasarkan dengan apa yang saya telah pelajari sebagai mahasiswa kedokteran.

Saya berikan sebuah contoh yang paling mudah. Mengenai teh. Sebelumnya saya beritahukan bahwa umat advent tidak meminum teh. Memang hal ini tidaklah tertulis di dalam alkitab. Kalau tentang makanan yang boleh dimakan dan tidak boleh dimakan sih, sudah jelas-jelas tertulis di dalam alkitab, yaitu di Kitab Imamat 11. Tetapi mengenai teh tidak ada, hanya ada tulisan dari seorang nabiah yang bernama Ellen G. White. Lalu apa dasarnya dari alkitab? Beberapa dasar prinsip kesehatan dalam alkitab dikutip dari ayat-ayat berikut :

1 Korintus 6:19-20

(19) Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?

(20) Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!

dan lagi

1 Korintus 10:31

(31) Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.

Jadi untuk tidak meminum teh, dasarnya adalah ayat-ayat berikut. Bahwa kita tidak boleh memasukkan bahan yang merusak ke dalam tubuh kita karena tubuh kita adalah bait Allah. Jadi mengapa kita tidak boleh minum teh? Apakah teh merusak tubuh kita?

Selama ini yang saya tahu adalah karena teh mengandung zat adiktif, yaitu kafein.
http://pangandaraninfo.com/2009/12/20/makalah-zat-adiktif-dan-psikotropika/

Efek kafein pada tubuh menurut yang saya pelajari, salah satunya adalah memicu kerja jantung. Apabila jantung dipicu maka akan semakin banyak darah yang dipompa ke otak. Itulah sebabnya kafein dapat menghilangkan kantuk dan menambah konsentrasi. Namun, efek ini hanyalah sesaat saja. Efek lainnya adalah palpitasi (atau yang kita kenal sebagai deg-degan) dan denyut nadi lebih cepat. Apabila dipicu terus-menerus, maka jantung akan lelah dan lebih lanjut dapat menyebabkan penyakit. Efek lain kafein dapat dilihat dalam referensi berikut : http://www.medicinenet.com/caffeine/article.htm

Tetapi kafein yang terkandung di dalam teh hanyalah sedikit. Lebih banyak di dalam kopi. Makanya ketika orang mau begadang, maka orang tersebut akan minum kopi dan bukannya minum teh. Jadi bisa dibilang efek samping kafein dalam teh tidak terlalu terasa.

Kemudian ada alasan lain, yaitu bahwa teh mengandung asam tanat yang dapat mencegah penyerapan zat besi. Jadi apabila kita minum teh sambil atau setelah makan, maka kita dapat menderita defisiensi besi, oleh karena besi yang kita konsumsi yang terkandung dalam makanan kita tidak dapat diserap. Makanya kita jangan terlalu mendengarkan apa yang dikatakan iklan. :P

Baiklah, dengan alasan-alasan tersebut saya dapat menerima larangan untuk tidak minum teh. Tetapi bagaimana dengan teh hijau? Orang bilang teh hijau dapat mencegah kanker karena kandungan anti oksidannya. Dan bukan hanya orang yang bilang begitu, tetapi juga dosen saya sendiri. Dan apa yang saya pelajari dalam ilmu kedokteran juga seperti itu. Bahwa teh hijau baik untuk dikonsumsi karena kandungan antioksidannya yang dapat mencegah kanker. Bukti yang diberikan adalah prevalensi kanker lambung pada orang Jepang akibat minum sake menurun sejak kebiasaan meminum teh hijau itu dijalankan. Saya merasa tidak dapat menerima hal ini dan mulai meminum teh hijau. Pada awalnya ada rasa bersalah. Tetapi kemudian rasa bersalah itu dikalahkan oleh pemikiran-pemikiran rasional saya, dan sayapun mulai merasa aman untuk mengkonsumsi teh hijau tersebut. Sampai pada suatu hari ketika saya pergi bersama dengan teman-teman saya ke restoran jepang. Kita tahu, teh hijau di restoran jepang, sekali bayar bisa minum sepuasnya. Dan pada saat itu, saya mengambil keuntungan. Di dalam pikiran saya, karena teh hijau dapat menyehatkan tubuh saya, maka saya meminum teh hijau itu dengan santai, hingga beberapa gelas. Tetapi sepulang dari sana, justru efek yang saya dapatkan malah sebaliknya. Saya mulai merasakan palpitasi hingga gemetar. Saat itu saya mengetahui bahwa teh hijau tidak baik untuk tubuh saya, dan sejak saat itu pun saya tidak pernah mengkonsumsinya lagi.

Saya mulai menjalani larangan-larangan tersebut dengan iman. Tidak berani lagi membantahnya dengan pemikiran logisku. Tetapi bila orang-orang bertanya padaku apa alasannya, ada beberapa hal yang tidak dapat saya jelaskan secara fisiologis. Akhirnya saya hanya dapat menjelaskan dengan apa yang telah saya alami saja ketika mengkonsumsinya. Tetapi ketika saya menemukan buku The Miracle of Enzyme ini, seakan-akan semuanya terbuka dengan jelas. Larangan-larangan yang selama ini saya anggap tidak logis (bukan saja teh hijau), ternyata ada penjelasan logisnya. Berikut adalah penjelasan yang saya kutip langsung dari buku tersebut:
"Memang benar bahwa antioksidan yang ditemukan dalam teh adalah antioksidan berjenis polifenol, yang mencegah atau menetralisasi efek radikal bebas yang merusak. Namun, jika beberapa antioksidan tersebut menyatu, mereka menjadi sesuatu yang disebut tanin.

Tanin menyebabkan beberapa tumbuhan dan buah-buahan memiliki rasa sepat. Rasa "pahit" dalam buah kesemek yang pahit misalnya, disebabkan oleh tanin. Tanin mudah teroksidasi, maka, tergantung pada banyaknya zat itu terkena air panas atau udara, dengan mudah ia dapat berubah menjadi asam tanat. Terlebih lagi, asam tanat berfungsi membekukan protein. Teori saya adalah bahwa teh yang mengandung asam tanat memiliki efek negatif pada mukosa lambung-yaitu selaput lendir yang melapisi lambung-sehingga menyebabkan orang tersebut menderita berbagai masalah lambung, seperti tukak lambung.

Kenyataannya, ketika saya menggunakan endoskop untuk memeriksa lambung mereka yang secara teratur meminum teh (teh hijau, teh cina, teh hitam inggris) atau kopi yang mengandung banyak asam tanat, biasanya saya menemukan mukosa lambung mereka telah menipis akibat perubahan atrofi. Lapisan lambung yang begitu penting itu menyusut begitu saja. Sebuah fakta yang sudah diketahui: perubahan atrofi yang kronis atau mag kronis dapat dengan mudah berkembang menjadi kanker lambung."

Ternyata Tuhan telah mempersiapkan cara untuk kita menjalankan kehidupan dengan lebih sehat, hanya kita tidak dapat melihat khasiatnya. Memang makanan ini sebenarnya tidaklah baik untuk kita konsumsi, hanya saja kita tidak tahu mengapa, apa yang tidak baik. Tuhan tahu yang terbaik buat kita. Hanya saja terkadang kita merasa lebih pintar dari Tuhan dan mulai membantah-Nya dengan pemikiran rasional kita sendiri.

Buku yang ditulis oleh dokter Shinya ini benar-benar membuka pemikiran saya mengenai hukum kesehatan. Menegur saya untuk dapat lebih mempercayai Tuhan tanpa harus mengandalkan pemikiran kita sendiri. Seperti yang tertulis di Amsal 3:5

(5) Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.

Masih banyak hal-hal tentang kesehatan yang dapat kita baca di dalam buku ini. Benar-benar alami, benar-benar rasional, dan benar-benar alkitabiah, walaupun dokter Shinya sendiri bukan berasal dari gereja masehi advent hari ketujuh. Saya merekomendasikan buku ini untuk anda baca. Bahasanya tidak terlalu sulit dibaca oleh kalangan awam, namun juga tidak terlalu sederhana untuk dibaca kalangan medis. Benar-benar tulisan yang bagus. Bukan bermaksud untuk mengiklankan, tetapi memanglah buku ini pantas untuk dibaca.

Semoga tulisan saya ini dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.

God bless us :)

Selasa, 30 Juni 2009

Say NO to cigarettes!!

PERHATIAN!! Tulisan ini memuat pandangan saya tentang rokok. Apabila anda keberatan dengan tulisan ini, atau anda merasa tulisan ini terlalu kasar, maka anda tidak perlu membacanya. Mohon maaf bila ada kesalahan kata. Ini hanya pandangan saya, bukan untuk menjelek-jelekkan pihak tertentu.

“Cigarettes are the only substance sold that, when the user follows the instructions carefully, will result in the consumer becoming toxic, chronically ill or !”-dr. Max Snyder, The Medical Aspects of Tobacco

Kemarin saya pergi ke daerah Senen, ke bekas sekolah saya untuk ketemu temen. Dulu saya sering banget tuh naek metro mini 24 bolak balik sekolahan. Tapi setelah beberapa lama gak naek… astaga!!! Gila dahh,,, rokok dimana-mana. Mungkin emang saya kali yang terlalu benci sama rokok. Yahh, tapi kan itu bukan tanpa alasan. Justru saya gak habis pikir kenapa orang-orang masih mau merokok. Udah jelas-jelas di dalamnya terkandung sedikitnya 4.000 bahan kimia berbahaya, di antaranya obat nyamuk, pembersih lantai, dll, dan sekurang-kurangnya 400 jenis racun. Yang paling saya bencinya, orang-orang yang di sekitar si perokok justru mendapatkan dampak yang lebih buruk dari si perokok itu sendiri.

Saya senang sekali ketika melihat ada brosur yang bertuliskan “5 Alasan Mengapa Kamu Harus Merokok di Kampus”. Sekarang saya akan bikin sendiri versi saya, lebih banyak ALASAN MENGAPA KAMU HARUS MEROKOK, yaitu:

  1. Kamu pengen dijauhin sama orang-orang di sekitar kamu.
  2. Kamu pengen berasa MACHO, tapi gak kesampean.
  3. Kamu pengen bau, biar orang-orang di sekitarmu tutup hidung tiap kamu lewat.
  4. Kamu pengen mati, tapi gak rela, jadi kamu ngajak orang lain ikutan mati.
  5. Kamu pengen punya gigi kuning, atau kamu benci banget punya gigi, jadi kamu pengen gigi kamu rontok, tapi takut pergi cabut gigi di dokter gigi.
  6. Kamu seneng punya kuku kuning, biar bias bergaya ala cadaver kali.
  7. Merokok di rumah >> kamu benci banget sama anggota keluarga kamu. Jadi kamu pengen mereka mati duluan, baru kamu ikutan mati setelah mereka.
  8. Kamu udah kaya raya sekali, sampe2 gak tau duitnya mo diapain, jadi kamu belanjain rokok, itung2 bakar duit.
  9. Kamu pengen punya napas yang bau, biar pacar kamu pingsan kalo ciuman sama kamu.
  10. Kamu pengen nyobain rasanya pembersih lantai, tapi gak berani minum yang dirumah, takut dimarahin sama istri kamu kalo pembersih lantainya cepet abis.
  11. Kamu pengen tau gimana rasanya jadi nyamuk yang disemprotin baygon.
  12. Kamu pengen lomba-lombaan kluarin asap sama bus kota.
  13. Kamu pengen bikin bumi tambah panas, biar es di kutub cepet leleh, dan rumah mu cepet tenggelem.
  14. Kamu pengen masuk neraka, jadi kamu membunuh orang-orang di sekitarmu. Jangan-jangan kamu gak percaya Tuhan??
  15. Kamu pengen ngusir nyamuk sekalian bunuh diri.
  16. Kamu pengen pendek umur.
  17. Kamu pengen punya paru-paru warna item, biar begaya gothic.
  18. Kamu pengen cepet bego, jadi kamu rusakin otak kamu sendiri.
  19. Kamu pengen nyoba, gimana sih rasanya punya penyakit kronis, tapi gak mau sendirian, jadi kamu ngajak orang-orang di sekitar kamu.
  20. Kamu seneng maen dahak di mulut, jadi kamu ngisep rokok, biar mulut kamu selalu berlendir.
  21. Kamu pengen cepet tua. Kan asik yah punya kerut di muka, terus gak kuat lagi olahraga. Kesannya berwibawa banget kayak kakek-nenek.
  22. Kalo kamu ibu-ibu yang lagi hamil, mungkin kamu gak sayang sama anak kamu, jadi kamu pengen dia mati ato lahir cacat.
  23. Kamu udah bosen sama rumah kamu, jadi kamu main api di rumah, sapa tau nanti kebakaran, jadi bisa ganti rumah deh.
  24. Kamu gak puas sama gusi kamu, kamu pengen gusi yang lebih gede alias bengkak.
  25. Kamu pengen punya kanker.
  26. Kamu gak pengen nyobain makanan yang enak2, jadi kamu rusakin indra pengecap kamu.
  27. Buat para suami, kamu pengen ’letoy’ biar gak bisa muasin istri kamu lagi.


Faktanya:

Merokok bikin gigi kuning, dan bahkan rontok.

Merokok bikin napas bau.

Merokok bikin kuku tangan dan kaki jadi kuning.

Merokok menaikkan produksi lendir di dalam mulut.

Merokok bikin gusi jadi bengkak dan penyakit mulut lainnya.

Merokok menyebabkan penyakit kronis, seperti kanker paru, jantung koroner, dan lain-lain.

Merokok bukan cuma membahayakan diri sendiri, tapi juga membunuh orang lain.

Merokok bikin impotensi.

Merokok bikin gangguan kehamilan dan janin.

Merokok bikin paru-paru jadi hitam.

Merokok merusak otak.

Merokok mengurangi athletic performance kita.

Merokok bikin kerut di wajah.

Merokok mengurangi daya pengecapan kita. Emang enak kalo makan gak ada rasa???

Rokok adalah pembunuh yang 5 kali lebih jahat dari penyebab kematian lainnya seperti kecelakaan, AIDS, narkoba dan bunuh diri.

Merokok menurunkan daya tahan tubuh. Jadi gampang terserang penyakit.

Sebagian penyebab kematian anak di US adalah kebakaran rumah yang disebabkan oleh rokok.



Masih mau merokok? Mungkin anda merasa tulisan saya ini terlalu kasar, tapi ini toh fakta. Terlalu blak-blakan atau anda yang tak berani menghadapi kenyataan??

Say NO to cigarettes!!!



Minggu, 05 April 2009

10 Health Habits That Will Help You Live to 100

You don't need to eat yogurt and live on a mountaintop, but you do need to floss


By Deborah Kotz
Posted February 20, 2009
http://www.usnews.com/mobile/articles_mobile/10-health-habits-that-will-help-you-live-to-100/index.html


The biggest factor that determines how well you age is not your genes but how well you live. Not convinced? A new study published in the British Medical Journal of 20,000 British folks shows that you can cut your risk of having a stroke in half by doing the following four things: being active for 30 minutes a day, eating five daily servings of fruit and vegetables, and avoiding cigarettes and excess alcohol.
While those are some of the obvious steps you can take to age well, researchers have discovered that centenarians tend to share certain traits in how they eat, move about, and deal with stress—the sorts of things we can emulate to improve our own aging process. Of course, getting to age 100 is enormously more likely if your parents did. Still, Thomas Perls, who studies the century-plus set at Boston University School of Medicine, believes that assuming you've sidestepped genes for truly fatal diseases like Huntington's, "there's nothing stopping you from living independently well into your 90s." Heck, if your parents and grandparents were heavy smokers, they might have died prematurely without ever reaching their true potential lifespan, so go ahead and shoot for those triple digits. Follow these 10 habits, and check out Perls' lifetime risk calculator to see how long you can expect to live.

1. Don't retire. "Evidence shows that in societies where people stop working abruptly, the incidence of obesity and chronic disease skyrockets after retirement," says Luigi Ferrucci, director of the Baltimore Longitudinal Study of Aging. The Chianti region of Italy, which has a high percentage of centenarians, has a different take on leisure time. "After people retire from their jobs, they spend most of the day working on their little farm, cultivating grapes or vegetables," he says. "They're never really inactive." Farming isn't for you? Volunteer as a docent at your local art museum or join the Experience Corps, a program offered in 19 cities that places senior volunteers in urban public elementary schools for about 15 hours a week.

2. Floss every day. That may help keep your arteries healthy. A 2008 New York University study showed that daily flossing reduced the amount of gum-disease-causing bacteria in the mouth. This bacteria is thought to enter the bloodstream and trigger inflammation in the arteries, a major risk factor for heart disease. Other research has shown that those who have high amounts of bacteria in their mouth are more likely to have thickening in their arteries, another sign of heart disease. "I really do think people should floss twice a day to get the biggest life expectancy benefits," stresses Perls.

3. Move around. "Exercise is the only real fountain of youth that exists," says Jay Olshansky, a professor of medicine and aging researcher at the University of Illinois at Chicago. "It's like the oil and lube job for your car. You don't have to do it, but your car will definitely run better." Study after study has documented the benefits of exercise to improve your mood, mental acuity, balance, muscle mass, and bones. "And the benefits kick in immediately after your first workout," Olshansky adds. Don't worry if you're not a gym rat. Those who see the biggest payoffs are the ones who go from doing nothing to simply walking around the neighborhood or local mall for about 30 minutes a day. Building muscle with resistance training is also ideal, but yoga classes can give you similar strength-training effects if you're not into weight lifting.

4. Eat a fiber-rich cereal for breakfast. Getting a serving of whole-grains, especially in the morning, appears to help older folks maintain stable blood sugar levels throughout the day, according to a recent study conducted by Ferrucci and his colleagues. "Those who do this have a lower incidence of diabetes, a known accelerator of aging," he says.

5. Get at least six hours of shut-eye. Instead of skimping on sleep to add more hours to your day, get more to add years to your life. "Sleep is one of the most important functions that our body uses to regulate and heal cells," says Ferrucci. "We've calculated that the minimum amount of sleep that older people need to get those healing REM phases is about six hours." Those who reach the century mark make sleep a top priority.

6. Consume whole foods, not supplements. Strong evidence suggests that people who have high blood levels of certain nutrients—selenium, beta-carotene, vitamins C and E—age much better and have a slower rate of cognitive decline. Unfortunately, there's no evidence that taking pills with these nutrients provides those antiaging benefits. "There are more than 200 different carotenoids and 200 different flavonoids in a single tomato," points out Ferrucci, "and these chemicals can all have complex interactions that foster health beyond the single nutrients we know about like lycopene or vitamin C." Avoid nutrient-lacking white foods (breads, flour, sugar) and go for all those colorful fruits and vegetables and dark whole-grain breads and cereals with their host of hidden nutrients.

7. Be less neurotic. It may work for Woody Allen, who infuses his worries with a healthy dose of humor, but the rest of us neurotics may want to find a new way to deal with stress. "We have a new study coming out that shows that centenarians tend not to internalize things or dwell on their troubles," says Perls. "They are great at rolling with the punches." If this inborn trait is hard to overcome, find better ways to manage when you're stressed: Yoga, exercise, meditation, tai chi, or just deep breathing for a few moments are all good. Ruminating, eating chips in front of the TV, binge drinking? Bad, very bad.

8. Stay connected. Having regular social contacts with friends and loved ones is key to avoiding depression, which can lead to premature death, something that's particularly prevalent in elderly widows and widowers. Some psychologists even think that one of the biggest benefits elderly folks get from exercise the strong social interactions that come from walking with a buddy or taking a group exercise class. Having a daily connection with a close friend or family member gives older folks the added benefit of having someone watch their back. "They'll tell you if they think your memory is going or if you seem more withdrawn," says Perls, "and they might push you to see a doctor before you recognize that you need to see one yourself."

9. Be a creature of habit. Centenarians tend to live by strict routines, says Olshansky, eating the same kind of diet and doing the same kinds of activities their whole lives. Going to bed and waking up at the same time each day is another good habit to keep your body in the steady equilibrium that can be easily disrupted as you get on in years. "Your physiology becomes frailer when you get older," explains Ferrucci, "and it's harder for your body to bounce back if you, say, miss a few hours of sleep one night or drink too much alcohol." This can weaken immune defenses, leaving you more susceptible to circulating flu viruses or bacterial infections.

10. Live like a Seventh Day Adventist . Americans who define themselves as Seventh Day Adventists have an average life expectancy of 89, about a decade longer than the average American. One of the basic tenets of the religion is that it's important to cherish the body that's on loan from God, which means no smoking, alcohol abuse, or overindulging in sweets. Followers typically stick to a vegetarian diet based on fruits, vegetables, beans, and nuts, and get plenty of exercise. They're also very focused on family and community.