Tampilkan postingan dengan label medical writings. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label medical writings. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 September 2010

Nostalgia blok GI Tract

Say goodbye to GI Tract, welcome neuromuskuloskeletal!

Walaupun dari awal saya tetap lebih menyukai kardio daripada GIT, dan walaupun saya merasa susah sekali belajar di blok GIT, sulit menangkap dan mengerti apa yang dikuliahkan, bahan pelajaran yang sangat banyak dengan mekanisme yang membingungkan walaupun sudah sangat familiar didengar sehari-hari *ternyata diare itu rumit tohhh..*, tapi blok GIT sangat berkesan buat saya dibandingkan dengan blok-blok lain yang telah saya lalui sebelumnya.

Lantaran ini berhubungannya toh dengan perut dan mulut, dan selera makan, setelah blok GIT jadi lebih hati-hati dalam memilih makanan dan pola makan. Saya juga baru tau toh kalau diet sangat rendah kalori dapat menyebabkan batu empedu (hati-hati para wanita yang berdiet ekstrim).


Well, tapi intinya bukan itu. Selama blok GIT ini, dan hanya di blok GIT inilah saya mendapatkan pengalaman berharga yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya. Bersyukur sekali punya dosen yang baik seperti dokter Yanto yang bersedia mengajarkan kami USG secara langsung dan dokter Robert yang bersedia mengajak kami kesana kemari mendapatkan pengalaman. Belum koass saja sudah dua kali mengikuti tindakan kolonoskopi. Berasa udah jadi dokter beneran (atau paling tidak, koass) :D

Saya masih ingat ketika kami ditanya oleh salah satu perawat yang ada disitu, "Kalian koass nya dokter cahyadi (panggilannya dokter robert di RS itu) ya?"
hahaha, betapa malunya waktu kami bilang kalo kami ini hanya mahasiswa pre-klinik yang masih dodol. Membuntuti dokter yang mengajak kami, dan kadang2 menanyakan beberapa pertanyaan aneh, yang kata dokter, "mikir dulu dong kalo mo nanya, pake logika dikitt..."
Walaupun tegurannya nyelekit, tapi benar juga. Kami masih perlu banyak belajar.

Pasien pertama adalah seorang ibu, yang mempunyai jaringan tumor di perut bawahnya dekat rektum. Waktu itu pertama kalinya kami datang, jadi masih sangat segan sekali. Ditambah lagi tidak ada rencana untuk datang sebelumnya, jadi beberapa orang (kebanyakan) dari antara kami tidak membawa jas lab. Tapi untungnya dikasih pinjem sama perawatnya. hehe. baik juga loh.

Waktu itu ternyata sang ibu belum tuntas meminum pencaharnya. Dia baru minum garam inggris (hayooo.. masih inget gak nama kimianya apa??) tapi belum minum dulcolax (apa bahasa farmakonya??? :D) Dan BAB nya belum air.

Perlu diketahui, pencahar ini diminum untuk membersihkan usus dari kotoran. Sebelum kolonoskopi, usus si pasien harus bersih dulu, supaya mudah melihatnya.

Nah, si ibu ini belum tuntas meminumnya, jadi tau kan apa akibatnya?

Ketika kabel kolonoskopi dimasukkan memang terlihat kotor, dimana-mana ada feses. Jadi susah untuk melihat, mana yang feses, mana yang jaringan asingnya. Kemudian setelah ditemukan jaringan asingnya, maka dilakukan biopsi. Saya baru tau cara melakukan biopsi ternyata seperti itu toh. Dimasukkan kabel lain yang punya capitan kecil di ujungnya. seperti gunting, tapi panjang, dan mikro. Di monitor dapat terlihat jaringan tersebut dicapit, lalu ditarik, dan memang, keluar darah yang banyak. Kata dokter, itu disebabkan jaringan neoplasma yang rapuh.

Biopsi dilakukan berulang-ulang kali, walaupun darah yang keluar banyak. Disini saya melihat prinsip risk and benefit. Dilakukan pengambilan jaringan yang banyak supaya pemeriksaan patologi anatominya akurat. Kalau sedikit, dan belum cukup untuk diagnosis, maka perlu dilakukan biopsi ulang. Itu lebih repot lagi dan menambah biaya. Lagipula, kata dokter, tanpa dibiopsi pun jaringan itu sudah rapuh, dan sewaktu-waktu dapat mengalami perdarahan.

Namun melakukan biopsi itu sendiri harus hati-hati dan profesional. Bila tidak, dapat terjadi komplikasi berupa perforasi. Risiko lainnya, jaringan yang luka itu dapat terinfeksi bakteri yang tadinya hanya bersifat komensal di kolon.

Pasien kedua, seorang bapak, punya benjolan di perut kanan bawah, besar dan keras. Karena kita disuruh melakukan pemeriksaan fisik, jadi saya cukup tau banyak tentang bapak ini. Pada hari pertama Hb nya hanya 8, jadi tidak berani dilakukan kolonoskopi. Setelah ditransfusi, pada hari kedua, Hb nya naik menjadi 10.

Waktu di-anam sedikit, bapak itu, dengan cara ngomongnya yang sedikit pelo (kata dokter robert disebabkan oleh kelemahan umumnya), bercerita. Katanya dia punya benjolan sudah lama. Tapi dua bulan belakangan ini dia merasa benjolannya keras, dan kadang nyut-nyutan. Terakhir kali dia diperiksa di puskesmas, Hb nya turun rendah sekali, karena itu dia dibawa ke Rumah Sakit. (ngga mo sebut merk :D)

Di punggung atas kanannya terlihat lesi dekubitus yang dia keluhkan sakit, lebih sakit dari benjolannya. Sedangkan benjolan tersebut, ketika kami palpasi, keras, dan nyeri seperti nyut-nyutan, serta berbatas tegas.

Kata dokter, tumornya bukan dari GIT tapi dari mesenkim, lokasinya kira2 di ileocaecal. Dan waktu di kolonoskopi, ternyata dia benar. great doc! :D Lesi si bapak, benar seperti yang dokter bilang, bukan dari GIT, tapi dari mesenkim yang metastasis ke GIT. Dari luar tembus ke dalam. Juga terdapat jaringan nekrosis, yang kelihatan hitam-hitam.

dan disini saya juga baru tau kalau kolonoskopi itu menyakitkan. Tadinya saya kira kabel fiber optic itu sangat elastis, jadi gak berasa kalo masuk usus. Malah temen saya bilang, "wah pinter banget itu alat, bisa ikut belok2 sesuai belokan usus." tapi ternyata perkiraan kami salah. Dia memang punya satu alat pinter di ujungnya yang bisa mengatur arah jalannya, tapi selebihnya ngga bisa ikutan belok2. Makanya bapak itu merasa kesakitan, sampai berteriak2. Tegang juga kami berada dalam situasi itu.

Saya baru sadar ketika menulis ini, kenapa si bapak merasa kesakitan, sedangkan si ibu tidak. Padahal waktu penyuntikkan anestesinya hampir sama. Memang si bapak disuntiknya agak telat sih. Tapi sepertinya bukan itu. Yang menyebabkan si bapak kesakitan dan si ibu tidak adalah belokkannya. Lesi si ibu berada di dekat rektum sehingga kabelnya tidak masuk terlalu dalam. Tidak belok2. Sedangkan lesi si bapak di ileocaecal, kabelnya harus nyebrang dari kiri ke kanan. Wajar lah kalau dia merasa lebih kesakitan.

Pertanyaan! sepele, dan mungkin agak konyol, setelah melakukan kolonoskopi pada 2 pasien neoplasma GIT, kenapa sang dokter selalu menyuruh pasiennya kentut?
Ada yang bisa jawab? hehhee

Tiba2 teringat seorang dokter yang mengajar topik anoreksia berkata, "terlalu kurus itu tidak baik (sambil melihat pada saya) tapi terlalu gemuk juga tidak baik (seraya mengalihkan pandangannya ke sebelah saya)."

tebak di sebelah saya ada siapa?

wkwkwkwkk..

Bye GIT. Nice to meet you :D

Selasa, 31 Agustus 2010

Berterimakasihlah pada Klebsiella

Siapa yang tak kenal tempe. Makanan tradisional Indonesia yang berasal dari hasil fermentasi kacang kedelai ini telah menjadi salah satu menu makanan penduduk Jawa Tengah sejak tahun 1700-an. Selain murah harganya, juga kaya nutrisi. Tempe mengandung protein, mineral, serta yang paling banyak dibicarakan saat ini adalah isoflavone, suatu senyawa estrogen yang dihasilkan tumbuhan (phytoestrogen), yang memiliki banyak efek menguntungkan bagi kesehatan. Dibandingkan dengan makanan hasil olahan kedelai lainnya, tempe mengandung isoflavone dengan kadar yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh fermentasi yang dilakukan oleh jamur Rhizopus. Semakin lama proses fermentasinya, semakin tinggi kadar isoflavone-nya.

Tetapi bukan itu yang mau saya bicarakan saat ini. Walaupun kadar isoflavone pada tempe Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan tempe yang dibuat di negara Asia lainnya seperti Jepang, karena proses fermentasinya yang seringkali dipercepat oleh masing2 pembuat tempe, namun, tempe Indonesia memiliki kelebihannya sendiri, yaitu kadar vitamin B12 yang cukup tinggi.

Tempe Indonesia mengandung vitamin B12 sebanyak 4.6 ug/100g, jumlah yang cukup tinggi dibandingkan dengan tempe Jepang yang kandungannya 0.03-0.06 ug/100g. Bagaimana mungkin hal ini terjadi? Bukankah tumbuhan tidak menghasilkan vitamin B12?

Jawabnya, ya. Memang tumbuhan tidak dapat menghasilkan vitamin B12. Kedelai tidak menghasilkan vitamin B12, begitu juga dengan Rhizopus. Lantas, darimanakah vitamin B12 itu berasal?

Vitamin B12 ini berasal dari bakteri Klebsiella pneumonia, yang muncul pada saat pembuatan tempe yang kurang higienis. Mengapa kadar vitamin B12 di tempe Jepang rendah, jawabnya adalah karena proses pembuatan tempe mereka yang bersih.

Apakah anda merasa jijik setelah membaca artikel ini?
Bagaimanapun, hal ini sangat menguntungkan bagi masyarakat Indonesia. Akan lebih baik lagi jika proses fermentasinya tidak dipercepat, tetapi dilakukan sesuai dengan prosedur yang benar. Maka tempe Indonesia akan semakin kaya akan nutrisi, dan semakin menguntungkan bagi masyarakat.

Bagi saya pribadi, sebagai seorang vegetarian, hal ini sangatlah menguntungkan. Saya jadi tidak perlu takut lagi kekurangan vitamin B12 karena tidak mengkonsumsi daging.

Bagaimanapun kita harus berterima kasih kepada Klebsiella.



*Artikel ini saya kutip dari Review Article berjudul "Tempe, a nutritious and healthy food from Indonesia", yang ditulis oleh Astuti, M. dan Meiliala, A. dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, dan Dalais, F.S., Wahlqvist, M.L. dari Faculty of Medicine, Monash University, Melbourne, Victoria, Australia.

Selasa, 13 Juli 2010

When bible meets medical: Bloody sweat of Jesus

Berkunjung ke suatu web jejaring online, saya melihat istilah ini dan tertarik untuk menggubrisnya lebih lanjut.

Kita tahu di dalam alkitab dituliskan bahwa Yesus mengeluarkan keringat darah ketika bergumul dalam doa-Nya di taman getsemani.

Lukas 22:44
Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.


Mungkinkah hal itu terjadi pada manusia? Ataukah itu merupakan sesuatu yang tidak wajar? Kita tahu bahwa Yesus adalah 100% Allah, tetapi juga 100% manusia. Bagaimanakah hal itu bisa terjadi dipandang dari sudut medis?

Berdasarkan penjelasan yang tertulis di Indian Journal of Dermatology, fenomena ini disebut hematohidrosis, suatu fenomena yang jarang terjadi. Hal ini jugalah yang disebut oleh Leonardo da Vinci "a soldier who sweated blood before battle".


HEMATOHIDROSIS

Seringkali dianggap sebagai sesuatu yang tidak mungkin terjadi, diragukan dapat benar2 terjadi.

Sinonim


Hematidrosis, Hemidrosis, Bloody Sweat, Hysteric Stigmata, Ephidrosis cruenta, Sudor sanguineosa

Definisi


Menurut http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/hematidrosis
he•ma•ti•dro•sis (h m -t -dr s s, h m -)
n.
The excretion of blood or blood pigment in the sweat. Also called hemidrosis1.


Etiologi

Komponen penyakit sistemik, vicarious menstruation (perdarahan dari permukaan selain membran mukosa rongga cavum uterus yang terjadi pada waktu ketika menstruasi normal seharusnya terjadi), eksersi yang berlebih, psikogenik, dan faktor idiopatik.

Paling banyak disebabkan oleh psikogenik, yaitu stres dan kondisi emosional yang sangat ekstrim. Hal ini dibuktikan oleh case report. Kasus paling banyak dilaporkan terjadi pada wanita yang mengalami ketegangan tinggi dan histeris.
Fenomena ini juga dikaitkan dengan primary trombositopenic purpura dan penyakit autoimun dimana terdapat autoeritrosit. Dalam beberapa kasus juga dapat dianggap sebagai gejala hemofilia.

Laporan Kasus

Pria 72 tahun konsultasi karena menemukan noda darah pada pakaian di daerah abdomen selama 2 bulan, terutama pada pagi hari. Dia telah menderita tekanan mental terus menerus selama 2 tahun karena pertengkaran keluarga. Tidak ada riwayat trauma abdomen dan genital, gangguan perdarahan, konsumsi berlebih dari makanan yang diberi pewarna atau alergi obat ataupun makanan. Ia adalah seorang vegetarian dan tidak memakan daging maupun produk unggas. Tidak dilaporkan adanya discharge darah dari uretra maupun daerah anus. Riwayat kontak seksual sebelum menikah dan IMS dibantah.

Pemeriksaan kulit menunjukan adanya trikomikosis aksilla dan noda kuning pada pakaian di daerah axilla dan dinding dada, dicurigai adanya kromhidrosis. Tidak ada noda darah di permukaan kulit. Noda darah hanya ditemukan di pakaian bagian abdomen, bukan di genital, sekitar anus atau bokong. Dilakukan pemeriksaan hemogram dan biokimia secara rutin untuk melihat apakah ada abnormalitas sistemik, tetapi terlihat dalam batas normal. Pemeriksaan mikroskopik urin dan hapusan uretra menunjukkan tidak ada abnormalitas
Tes benzidine positif. Tes hemokromogen tidak dapat dilakukan karena tidak tersedia. Dalam pemeriksaan biopsi terlihat epidermis, pembuluh kapiler dan sel darah merah di lumennya, dan adanya edema papil kulit dan melanofag kulit. Pewarnaan khusus (Persian blue) untuk mendeteksi adanya hemosiderin positif.
Pemeriksaan psikiatrik : adanya gangguan depresi.

Diagnosis kerja : Hematohidrosis

Tatalaksana: hanya diberikan konseling untuk depresi, tanpa terapi sistemik

Hasil : setelah 15 hari, perdarahannya menghilang total, tidak ada relapse pada follow-up 6 bulan hingga 1,5 tahun.

Patogenesis

Terdapat pembuluh darah kapiler yang berbentuk seperti jaring di sekitar kelenjar keringat. Pada saat stress, oleh aktivasi sistem saraf simpatis, menimbulkan reaksi "fight or flight". Pembuluh darah mengalami konstriksi. Tetapi seiring bertambahnya beratnya ansietas, pembuluh darah tersebut berdilatasi hingga mencapai titik maksimal, kemudian ruptur. Darahnya mengalir ke kelenjar keringat, bercampur dengan keringat, lalu keluar ke permukaan kulit sebagai titik2 keringat darah. Darah yang keluar memiliki komponen yang sama dengan komponen darah tepi.

Efeknya ke tubuh adalah dehidrasi ringan sampai sedang, dan penderita akan merasa lemas, yang disebabkan oleh stress, kehilangan darah dan cairan lewat keringat.


Manifestasi Klinis

Dapat terjadi di seluruh bagian tubuh, dapat terjadi di beberapa titik bersamaan. Kulit dapat terlihat normal pada saat berkeringat darah, atau mengalami peninggian sebelum mengeluarkan keringat darah. Dapat pula didahului oleh vesikel atau lepuhan di kulit, atau juga daerah eritema. Dapat terkelupas dan menimbulkan gangren (hal ini disebut neurotic excoriations). Jumlah darah biasanya sedikit.

Diagnosis


Biopsi tidak menunjukkan adanya ruang vaskuler yang terisi darah, tak ada perdarahan intradermal, obstruksi kapiler ataupun abnormalitas folikel rambut, kelenjar sebasea atau kelenjar keringat.
Diagnosis dapat ditegakkan melalui tes Benzidine.
Cara kerjanya : hemoglobin direaksikan dengan hidrogen peroksida, melepaskan oksigen yang akan bereaksi dengan senyawa organik (reagent) menghasilkan senyawa berwarna biru hijau.
Tes Hemokromogen mengkonfirmasi bahwa darah tersebut adalah berasal dari manusia.
Cara Kerjanya: piridine dalam reagent mereduksi hemoglobin menjadi kristal piridine hemoglobin yang berwarna pink salmon, dapat dilihat melalui mikroskop.

Tatalaksana


Tergantung indikasi masing-masing kasus.

Referensi

1. http://www.doctortreatments.com/Diseases_Of_The_Skin/Class_VIII_Diseases_Of_The_Appendages_Diseases_Of_The_Sweat-Glands_Hematidrosis.htm
2. http://www.e-ijd.org/article.asp?issn=0019-5154;year=2009;volume=54;issue=3;spage=290;epage=292;aulast=Jerajani
3. http://en.wikipedia.org/wiki/Hematidrosis

Rabu, 29 April 2009

A person we called 'doctor'...

A doctor is...

A curer..
Cure those with maladies

A healer..
Not only curing but also restoring

A carer..
Even to those who cannot be cured

A trainer..
Train people to gain a healthy life

A promoter..
Promoting the Primary Health Care

A motivator..
Motivate patients in their healing process

A teacher..
Educate patients how to live healthy

A father..
Just as father knows the best for his child

A chemist..
Know and understand biochemistry of metabolic system in human body

A technician..
Learn physics and how to use medical technology

A scientist..
Learn science and its development

A psychologist..
As it relates to patients' health

A communicator..
Able to build a good communication with the patients

A manager..
study management

A trustee..
Keep patients' secret

A lover..
Have empathy to patients

A friend..
Trusted by the patients

A student..
Keep study along his/her life, because medicine grows exponentially

A counselor..
Handle a counseling with the patients

A listener..
Listen to patients' needs

A good citizen..
Obey the law, respect the human rights

An artist..
Hippocratic oath : "dalam kesucian dan kemurnian akan kujaga seniku"

A nutritionist..
Know the best nutrition for the patients to consume

A believer of GOD..
Not everything can be explained by science and technology

Sabtu, 14 Februari 2009

Hipervitaminosis vitamin A

Tugas kelompok Vitamin A

Vitamin A merupakan senyawa yang essensial bagi kehidupan manusia. Walaupun diperlukan hanya dalam jumlah yang sedikit, namun kekurangan maupun kelebihan vitamin A dapat berakibat fatal.

Kasus defisiensi vitamin A bukan merupakan kasus yang asing lagi bagi kita. Defisiensi vitamin A dapat mengakibatkan kurangnya imunitas dalam tubuh terhadap penyakit, dan juga menyebabkan xeroftalmia, yang akan berlanjut kepada kebutaan dan kematian. Hal ini terjadi bukan saja pada anak-anak di daerah-daerah yang pemeliharaan gizinya buruk, ataupun pada anak-anak dengan status masyarakat tidak mampu, yang kebutuhan gizinya tidak terpenuhi. Tetapi hal ini juga terjadi pada anak-anak yang status masyarakatnya baik. Padahal yang paling banyak membutuhkan vitamin A adalah anak-anak, mengingat kebutuhan ini menurun seiring menuanya usia.

Untuk mencegah dampak buruk yang diakibatkan oleh defisiensi vitamin A ini, biasanya pemerintah, bahkan WHO, menganjurkan untuk mensupplementasi anak-anak dengan vitamin A dosis tinggi dalam jangka waktu tertentu, sesuai dengan usia anak, yaitu:
 50.000 IU pada saat lahir, dilanjutkan dengan 25.000 IU pada kontak imunisasi, 4 kali dalam usia 6 bulan pertama.
 Dosis tunggal 50.000 IU untuk bayi usia dibawah satu bulan.
 Dosis tunggal 100.000 IU untuk bayi usia 1-5 bulan
 Dosis 200.000 IU untuk anak usia 1-5 tahun

*Dosis diberikan dalam jangka waktu satu bulan.
*IU adalah satuan vitamin A (1 IU = 0,0003 mg)

Pemberian dosis tinggi ini dianggap baik untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Karena sifatnya yang larut dalam lemak, vitamin A dosis tinggi yang dikonsumsi, tetapi tidak terpakai dalam tubuh dapat disimpan dalam hati, dan digunakan sewaktu-waktu apabila diperlukan. Namun sifat ini pulalah yang membuat penggunaan dosis tinggi berisiko menyebabkan gangguan pada tubuh, karena penumpukan vitamin A yang terlalu banyak.

Di sini kita dapat melihat kontroversi, yaitu karena pihak yang satu setuju akan penggunaan vitamin A dosis tinggi, malah justru menganjurkan. Tetapi pihak lainnya menganggap hal ini sebagai faktor penyebab hipervitaminosis yang juga sangat berbahaya. Kontroversi ini terjadi bukan hanya untuk anak-anak, melainkan juga untuk orang dewasa (akan dibahas lebih lanjut).

Oleh karena itu untuk mendapatkan hasil yang jelas akurat tentang bagaimana mengkonsumsi vitamin A yang benar, kami menggunakan metode meta analisis, yaitu yang diambil dari jurnal-jurnal medis, artikel kesehatan, dan buku-buku kedokteran.

Hipervitaminosis pada anak-anak.

Hipervitaminosis vitamin A sering kali dihubungkan dengan berubahnya warna kulit menjadi kekuningan. Biasanya apabila ditemukan kasus seperti ini, penderita akan langsung panik dan berasumsi keracunan vitamin A.

Namun, hal ini sebenarnya tidaklah berbahaya. Penyebab hal ini sebetulnya adalah karotenoid, suatu bentuk provitamin A yang terdapat pada sayur-sayuran hijau dan buah-buahan. Karotenoid tidak bersifat toksik tetapi dapat menyebabkan kekuningan pada kulit, akibat sifat vitamin A yang dapat larut dalam lemak, sehingga vitamin A disimpan bersama dengan jaringan adiposa. Karena dibawah kulit terdapat jaringan adiposa, kulit dapat berwarna kekuningan.

Sebenarnya kasus seperti di atas jarang ditemukan, karena rendahnya konversi karoten ke vitamin A. (1 mol karoten = 0,27 mol vitamin A)

Dosis yang telah disebutkan di atas adalah batas aman penggunaan vitamin A untuk anak-anak. Apabila vitamin A dikonsumsi melebihi dosis tersebut akan terjadi gangguan-gangguan pada tubuh, seperti:
 Pada bayi usia 6 bulan, apabila mendapatkan dosis lebih dari 100.000 IU per bulan, akan terjadi penonjolan fontanel akibat peningkatan tekanan intrakranial.
 Pada anak usia 1-5 tahun, apabila mendapatkan lebih dari 300.000 IU dosis tunggal per bulan, maka kemungkinan akan menderita mual, sakit kepala dan anoreksia.
 Apabila dikonsumsi berbulan-bulan atau bertahun-tahun dengan dosis yang tinggi, maka akan menyebabkan hepatomegaly dan berlemak.
 Penggunaan vitamin A 25.000 hingga 50.000 UI sehari dapat menimbulkan nyeri tulang, lesi kulit, rambut rontok, hepatosplenomegali, papiludem, pendarahan dan kelemahan.
Pengobatan yang dapat dilakukan hanyalah penghentian konsumsi vitamin A dan pengobatan simptomatis.

Hipervitaminosis pada dewasa

Hipervitaminosis atau keracunan vitamin A dapat mempengaruhi tulang. Asam retinoa, metabolit aktif dari vitamin A, dapat menstimulasi pembentukan dan aktivitas osteoklas, menyebabkan peningkatan resorpsi tulang, dan pembentukan reaksi periosteal.

Reaksi periosteal adalah reaksi pembentukan tulang baru akibat respon terhadap cedera atau stimuli dari periosteum di sekitar tulang. Reaksi periosteal dapat menyebabkan hyperostosis, yang dapat juga meningkatkan resiko osteoporosis.

Selain itu, hipervitaminosis vitamin A juga dapat mempengaruhi metabolisme mineral dan menyebabkan hiperkalsemia.

Berikut ini ada beberapa hasil penelitian mengenai konsumsi vitamin A yang baik:

• Studi Melhus di Norwegia dan Swedia menyatakan, tingginya insiden fraktur panggul di daerah tersebut disebabkan oleh terlalu banyak konsumsi vitamin A, yaitu 6x lebih tinggi dibandingkan dengan Eropa Selatan. Bone mineral density pada orang yang mengkonsumsi vitamin A melebihi 1,5 mg per hari adalah 10% lebih rendah daripada orang yang mengkonsumsi kurang dari 1,5 mg per hari.

• Laporan Nurse Health study menyatakan orang yang mengkonsumsi vitamin A 1,5 mg atau lebih setiap hari memiliki resiko terkena fraktur panggul lebih besar daripada orang yang mengkonsumsi kurang dari 0,5 mg per hari.

• Penelitian berikutnya oleh Rancho Bernado, menyatakan bahwa bone mineral density optimal bila konsumsi vitamin A antara 2000-2800 IU (0,6-0,9 mg) per hari.

• Michaelsson menyimpulkan bahwa serum retinol yang tinggi meningkatkan resiko terjadinya fraktur.

• National Health and Nutrition Examination Survey menyatakan bahwa pria usia di atas 30 tahun dan wanita di atas 50 tahun memiliki tingkat retinol serum yang tinggi.


Terdapat kasus tertentu dari Duke Hospital, Durham.

Seorang bayi wanita, pada usia empat bulan, fontanelnya belum menutup. Karena dianggap kekurangan vitamin, bayi ini diberikan vitamin A dosis tinggi setiap hari. Pada usia 6 bulan, setelah ditemukan bengkak pada kakinya, dosis vitamin yang diberikan dinaikkan. Setelah beberapa lama, bayi ini mengalami hiperostosis, craniotabes (tengkoraknya menjadi lembek seperti membran), dan pembengkakan yang fusiform di bagian distal metatarsal.

Akhirnya diasumsikan bahwa bayi ini mengalami hipervitaminosis vitamin A, karena setelah konsumsinya dihentikan, gejala-gejala tersebut mulai membaik, tengkoraknya mulai mengeras dan menjadi lebih padat.

Kasus-kasus seperti ini adalah ppengecualian yang jarang terjadi. Setelah diselidiki, terdapat gangguan penyerapan vitamin pada anak tersebut, sehingga menyebabkan hipervitaminosis.

Jenis-jenis hipervitaminosis A:
• Hipervitaminosis A akut
Biasanya terjadi dalam waktu 24 jam. Gejalanya dalai mual, muntah, dan sakit kepala. Pada anak-anak terjadi bila mengkonsumsi dosis 300.000 IU atau lebih. Pada bayi usia did bawah 1 tahun menyebabkan penonjolan fontanel. Pengobatan adalah dengan menghentikan konsumsi vitamin A dan pengobatan simptomatik. Akan hilang dalam 1-2 hari.
• Hipervitaminosis A kronis
Terjadi bila mengkonsumsi dosis tinggi selama beberapa bulan atau tahun. Gejalanya antara lain anoreksia, kulit kering, gatal, peningkatan tekanan intra cranial pada bayi, bibir pecah-pecah, tungkai dan lengan lemah dan membengkak (karena reaksi periosteal). Pengobatanmua dengan menghentikan konsumsi vitamin A dan pengobatan simptomatik.


Dosis vitamin A yang aman.

Dari berbagai penjelasan di atas, kita dapat melihat bahwa penggunaan vitamin A dosis tinggi merupakan kebutuhan yang essensial bagi tubuh, namun akan sangat berbahaya bila tidak diperhatikan.

Dosis konsumsi vitamin A yang aman untuk anak-anak seperti diatas nampaknya tidak menjadi masalah, apabila tidak dilanggar ketentuannya. Namun pada orang dewasa, sebaiknya dosis tersebut dikurangi, mengingat kebutuhannya yang semakin berkurang seiring dengan meningkatnya usia.

Dari penelitian-penelitian yang telah disampaikan di atas, dapat disimpulkan:
• Bayi usia 1-5 bulan sebaiknya mengkonsumsi tidak lebih dari dosis tunggal 100.000 IU.
• Anak usia 1-5 tahun sebaiknya mengkonsumsi tidak lebih dari dosis 200.000 IU.
• Orang dewasa sebaiknya mengkonsumsi dosis 2000-2800 IU perhari, yaitu 0,6-0,9 mg, dan tidak lebih dari 1,5 mg.
• Dosis tinggi ini bukan untuk suplementasi per hari, melainkan per bulan.
• Suplementasi sebaiknya tidak dilakukan dengan rutin, untuk mengurangi risiko hipervitaminosis kronik.



Referensi


Arena, Jay M., M.D., Sarazen, Paul, Jr., M.D., Baylin, George J., M.D.. Hipervitaminosis A - Report an unusual Case with Marked Craniotabes. Official Journal of the American Academy of Pediatrics. 1951; 8: 788-794.

Tang G, Qin J, Dolnikowski G G, Russell R M. Short-term (intestinal) and long-term (post-intestinal) conversion of beta carotene to retinol in adults as assessed by a stable-isotope reference method. The American Journal of Clinical Nutrition. 2003; 78: 259-66.

Jason J, Archibald, Lennox K., Nwanyanwu, Okey C., Sowell, Anne L., Buchanan I, Larned J, Bell M, Kazembe, Peter N., Dobbie H, Jarvis, William R.. Vitamin A Levels and Immunity in Human. Clinical and Diagnostic Laboratory Immunology. 2002; 9.3: 616-621.

Wikipedia – The Free Encyclopedia. “Craniotabes”. http://en.wikipedia.org/wiki/Craniotabes

Wikipedia – The Free Encyclopedia. “Periosteal Reaction”. http://en.wikipedia.org/wiki/Periosteal_reaction

www.gizi.net/pedoman-gizi/download/KG-1A.doc

http://drakeiron.wordpress.com/2008/11/23/info-hipervitaminosis-a-dan-fraktur/

http://apotekputer.com/ma/index.php?option=com_content&task=view&id=75&Itemid=9